Review Getih Ireng, Klasik Lokal
Review Getih Ireng
![]() |
| Uxfilm review geting ireng |
Film ini mulai dari setup yang cukup klasik tapi efektif: seseorang (atau keluarga) yang berurusan sama masa lalu kelam—biasanya terkait kutukan, dosa lama, atau ritual yang gak selesai. Dari awal udah dikasih hint kalau ada sesuatu yang "gak beres", tapi gak langsung dijelasin gamblang. Jadi penonton diajak nebak-nebak dulu.
Review Geting Ireng: Yang bikin menarik, premisnya gak cuma horror for the sake of horror. Ada unsur budaya Jawa yang cukup kental, jadi terasa kayak cerita turun-temurun yang bisa aja "nyata" di konteks lokal. Ini nilai plus karena bikin dunianya lebih grounded.
Masuk ke tengah film, ceritanya mulai buka layer satu per satu. Misterinya pelan-pelan dikasih konteks: kenapa gangguan itu muncul, siapa yang terlibat, dan apa hubungannya dengan masa lalu.
Di sini filmnya main di slow burn. Bukan tipe yang langsung kasih jawaban, tapi lebih ke nambah rasa gak nyaman. Kadang lo dikasih clue kecil yang baru masuk akal beberapa scene kemudian.
Cuma, di fase ini juga pacing mulai kerasa jadi masalah. Ada beberapa bagian yang kayak muter di tempat—nambah atmosfer sih iya, tapi gak selalu nambah progres cerita.
Konflik utamanya biasanya berpusat di usaha karakter buat:
* ngerti asal-usul kutukan
* nyari cara menghentikannya
* atau survive dari teror yang makin intens
Konfliknya gak cuma eksternal (lawan hal gaib), tapi juga internal—rasa bersalah, trauma, atau hubungan antar karakter yang retak karena rahasia masa lalu.
Yang menarik lagi, konflik di film ini mengikuti ke "inevitable doom" vibe. Kadang terasa tidak bisa melarikan diri dan bukan sekadar lawan hantu terus selesai, tapi ada rasa kalau apa yang terjadi itu konsekuensi yang udah lama tertunda.
Menjelang klimaks, film mulai ngegas—tension naik, rahasia kebuka, dan stakes terasa lebih tinggi. Tapi di sinilah opini bisa kebagi:
- ada yang ngerasa payoff-nya cukup satisfying karena semua puzzle nyambung
- ada juga yang ngerasa kurang "nendang" dibanding build-up yang panjang
- Premis: familiar tapi diperkuat budaya lokal
- Build-up: kuat di atmosfer, lemah di pacing
- Konflik: emosional + supranatural, cukup dalam tapi eksekusinya gak selalu maksimal
Intinya, film ini lebih kuat di perjalanan (atmosfer dan misteri) daripada di tujuan akhirnya. Cocok buat yang suka horor yang pelan tapi punya bobot cerita.
Secara konsep, ini bukan tipe horor yang full jumpscare tiap 5 menit. Lebih ke unsettling feeling yang nempel. Ada unsur kutukan, ritual, dan masa lalu yang kebuka layer demi layer. Buat yang suka cerita horor dengan “akar budaya”, ini masuk.
Tapi jujur aja, pacing-nya kadang kerasa ketarik. Beberapa bagian kayak terlalu lama di build-up tanpa payoff yang sebanding. Kalau lo tipe yang butuh action cepat atau horor yang langsung gas, mungkin bakal ngerasa agak dragging.
Visual dan sound design-nya solid. Sound itu salah satu kekuatan utama—heningnya kerasa "berisik", which is a good thing buat horor. Beberapa scene juga aesthetically dapet, walau gak semua memorable.
Akting? Mixed. Ada yang deliver banget dan bikin ceritanya kebawa, tapi ada juga yang kerasa agak kaku, jadi emosinya gak selalu nyampe maksimal.
- plus: atmosfer dapet, lore lokal kuat, horor tipe “nempel di kepala”
- minus: pacing lambat, payoff gak selalu satisfying
Worth nonton kalau lo:
- suka horor yang pelan tapi creepy
- tertarik sama mitos Jawa
Kurang cocok kalau lo:
- nyari horor yang intens dari awal sampai akhir
- butuh banyak jumpscare buat kerasa puas
Nilai 7/10 untuk review Getih Ireng.
